Parameter Utama Analisa Pelumas (2/4)
Kontaminasi Garam (Salt)
Polutan garam mengindikasikan kontaminasi air laut yang sangat korosif di banding air biasa. Garam akan teroksidasi dan tertinggal pada jalur pelumasan saat bereaksi dengan panas mesin. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan mesin dan sebagai katalis proses tumbuhnya karat dan keasaman di adalam sistim pelumasan. Garam bereaksi dengan lapisan timah pada bantalan (bearing) dan membentuk serbuk timah yang keras yang akan menggores permukaan poros dan bantalan itu sendiri. Bila bercampur dengan gas dan polutan lain hasil proses pembakaran BBM berat, potensi kerusakan korosi, erosi, dan penyempitan jalur pelumasan mesin. Batas maksimal untuk garam adalah 50 ppm, sebaiknya 0 ppm.
Polutan Padat Terlarut – Insolubles
![]() |
Pengujian ini hanya berlaku pada jenis pelumas mesin diesel
(pembakaran internal), dimana tingkat kontaminasi yang tinggi di
bandingkan berbagai aplikasi dan sistim pelumasan lainnya. Terdapat
pengecualian pada sejumlah aplikasi turbin gas di bidang aviasi
(penerbangan), lazim di kenal sebagai masalah “black oil”
Laboratorium mengukur jumlah polutan padat terlarut (insolubles)
dengan standar ASTM D893, ini merupakan acuan praktisi industry
dalam standar uji dan pengukuran.
Pengukuran insolubles dapat pula termasuk total insolubles dengan
acuan IP316 yang mengunakan pelarut jenis heptane dan memiliki
korelasi hasil pengukuran yang baik dengan standar ASTM D893.
Pengujian lain seperti IC Photometer, memberikan indikasi karbon
konten, keausan logam (wear debris), abu bahan bakar yang bersifat
logam (metallic fuel ash) dan kotoran pada udara.
Kemampuan aditif dispersan (pemisah air) dan deterjen
(membersihkan) dari pelumas akan terpengaruh dan berkurang. Hal
ini mempercepat kecendrungan timbulnya penumpukan kotoran di
daerah sekitar torak (piston) bagian atas serta bagian‐bagian ring
piston. Tingginya tingkat insolubles akan menaikkan keausan dan
gesekan pada komponen mesin. Hal ini dapat pula terindikasi dengan
naiknya jumlah konsumsi pelumas yang sangat sering di temui
pada mesin-mesin dengan kondisi buruk.
Bersambung ke bagian ke 3 »»
ebahagia ©2008.

