Water in Oil, Sang Penjahat Kelas Berat
Sangat banyak tulisan yang membahas polutan partikel pada pelumas dan sistim pelumasan. Kebersihan pelumas yang terjaga dari kontaminan adalah impian para praktisi industri demi penghematan yang luar bisa dari kerusakan dan ganguan proses produksi. Dengan menaikan satu angka hasil pengukuran partikel (ISO 4406) di capai kenaikan hingga 30% perpanjangan masa kerja komponen mesin. Jadi janganlah heran bila tercapai penghematan biaya perawatan mesin hingga 90% cukup dengan menjaga kebersihan pelumas dan sistim pelumasan.
![]() |
Salah satu musuh utama sistim pelumasan adalah polutan air, yang memiliki tiga bentuk atau tahapan. Dissolved water, uap air dan kelembaban yang berfluktuasi saat terjadi perubahan temperatur. Tidak mungkin mengamati dissolved water secara visual. Peningkatan konsisi dissolved water akan menjadi jenuh (saturated) dan menjadi bentuk baru yaitu emulsified water. Warna pelumas akan berubah menjadi keruh berkabut dan bila Anda amati dengan mikroskop, akan terlihat gelembung air dalam pelumas. Akumusi dan pertambahan polutan air pada pelumas dalam kondisi emulsi air, akan membentuk pemisahan air dan minyak. Dalam tahapan ini pelumas yang tercemar telah mencapai tahap free water. Umumnya berat jenis pelumas lebih ringan dari air, oleh sebab itu akumulasi free water berada di bagian dasar tangki atau wadah pelumas.
Seburuk apa polutan air dapat mempengaruhi sistim pelumasan Anda?
Fakta yang mendasar, Air tidak memberikan efek pelumasan seperti pembentukan lapisan film pelindung (oil film) bagian mesin yang bersinggungan. Fenomena gesekan meningkat yang berakibat naiknya suhu permukaan komponen mesin, selain meningkatnya keausan komponen. Kenaikan panas turut merusak komposisi pelumas secara oksidasi serta membentuk berbagai polutan baru (oxidation by-product).
![]() |
Polutan air memainkan peran sangat penting pada proses oksidasi dan penurunan kemampuan beragam aditif pelumas. Aditif pelumas kebanyakan terbuat dari unsur logam yang sangat mudah bereaksi secara kimia, polutan air sangat agresif menjadi katalis dan membentuk kondisi asam (acid). Karat dan bakteri sangat mudah ditemui pada sistim pelumasan dengan polutan air.
Polutan air dalam pelumas trafo adalah mimpi buruk para teknisi yang mempertaruhkan kelangsungan "hidup" unit trafo tersebut.
Bagaimana memonitor polutan air dalam pelumas?
Secara visual sangat mudah terlihat pada kondisi emulsified dan free water. Botol sampel berbahan PET dan jendela inspeksi pada wadah pelumas akan sangat membantu. Hot plate bersuhu ~160°C akan mengindikasikan polutan air yang menguap di awali dengan munculnya gelebung-gelembung uap air, teknik ini disebut visual crackle test. Cara lain dengan melarutkan sampel pelumas dengan karbit (calcium hydride), reaksi dalam bejana tertutup akan membentuk gas acetylene bertekanan. Besaran tekanan yang terjadi mengindikasikan konsentrasi air dalam pelumas (Kittiwake water in oil test). Penempatan Moisture Sensor pada sistim pelumas semakin sering di pilih pada aplikasi industri, dengan indikasi polutan air dalam satuan RH% dan suhu pelumas. Selain sebagai bentuk pro-active predictive maintenance, beberapa mesin dan peralatan memerlukan perlindungan khusus terhadap polutan air.
![]() |
Praktisi lab cenderung mengunakan peralatan Karl Fischer Titrator dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) demi memenuhi standar uji ASTM. Pemahaman tradisional tentang kedua metode pengujian ini hanya dapat dilakukan di lab harus di buang jauh. Praktisi Condition Monitoring telah menikmati versi lapangan (portable version) dari KF Titrator dan FTIR.
ebahagia ©2009.



